Posted by: djarotpurbadi | February 10, 2009

Di Mana Hotel Yang “Dihuni” Nyi Roro Kidul?

Kompas.com: Rabu, 12 November 2008 | 16:10 WIB

Samudera Beach Hotel (kini Inna Samudra Beach) dibangun pada kurun waktu yang sama dengan Hotel Indonesia dan Bali Beach Hotel. Pembangunan tiga hotel mewah pertama di Indonesia itu diprakarsai Presiden Sukarno dengan menggunakan dana pampasan perang dari Jepang. Samudera Beach Hotel dibangun tahun 1962 dan diresmikan 15 Februari 1966.

Hotel yang terletak di Jalan Raya Palabuhanratu-Cisolok Km 7, Kabupaten Sukabumi, ini menawarkan pemandangan lautan lepas di setiap kamarnya. Hotel bertingkat delapan itu memiliki 106 kamar. Sebanyak 100 kamar di antaranya disewakan. Di bagian atas hotel yang berdiri di atas lahan seluas 35 hektar itu dilengkapi landasan helikopter.

Di area pantai hotel, terdapat kolam renang yang bisa dinikmati tamu hotel. Di sebelah kolam renang terdapat ruang serbaguna, Teratai Hall, yang mampu menampung 500 orang. Selain itu, pengunjung juga bisa bermain di pantai yang cukup landai di lokasi hotel itu.

Menurut kepercayaan setempat, Pantai Palabuhanratu dihuni Nyi Roro Kidul, yang diakui sebagai penguasa pantai selatan. Kepercayaan ini begitu kuatnya sehingga di Hotel tersebut disediakan sebuah kamar khusus untuk tempat kediaman sang penguasa itu.

Ketika hotel itu mulai beroperasi tahun 1966, kamar nomor 720 khusus disediakan untuk Nyi Roro Kidul. Namun tiga bulan kemudian, melalui seorang kuncen, penguasa laut selatan memilih menempati kamar nomor 308 hingga sekarang.

Kamar itu sekilas tidak berbeda dengan kamar lain di hotel tersebut. Bedanya, ruangan yang didominasi warna hijau pada dinding, karpet, lantai, hingga gorden itu terkesan mistis. Warna itu diyakini kesukaan Nyi Roro Kidul. Selain itu, suasana kamar juga kian terkesan mistis dengan delapan lukisan potret wanita cantik yang diyakini sebagai gambaran ratu penguasa pantai selatan. Salah satu lukisan di antaranya hasil karya Basuki Abdullah. Eri

Posted by: djarotpurbadi | February 10, 2009

100 Tahun Kebangkitan Nasional

Kebangsaan: Imajinasi Masa Lalu

Kompas.com: Senin, 19 Mei 2008 | 03:00 WIB

BRE REDANA

Apakah sebuah gagasan – katakanlah gagasan mengenai nasionalisme – bisa berfungsi seperti sebuah ayat, yang dengan itu lalu terjadi semacam proses nubuatan, sebuah bangsa kemudian bangkit, mengepalkan tangan, satu padu bulat tekad menuju merdeka? Banyak hal membuktikan, kesadaran bangkit disebabkan hal-hal kecil, dari perubahan-perubahan yang sering tak teramati karena sifat kesehariannya, yang betapapun di baliknya sebenarnya tersimpan gerak modernisasi.

Pada mulanya, pembangunan Grote Postweg—sebuah jalan raya yang menyisir Pulau Jawa di bagian utara, dari Anyer sampai Panarukan, oleh Herman Willem Daendels, ketika yang bersangkutan menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda tahun 1808-1811. Pembangunan jalan itu adalah untuk menahan kemungkinan invasi Inggris dari laut (utara). Dengan pembangunan jalur itu—yang dirancang sebagai jalur militer—bisa disusun strategi untuk memobilisasi manusia, dari satu wilayah permukiman ke permukiman lain.

Lalu, semua berlangsung tak terduga. Bukan saja tumbuhnya jalan berarti juga tumbuhnya jalur perdagangan, tetapi peta kekuasaan bahkan sakralitas kekuasaan diacak-acaknya. Dalam konsep kekuasaan sebelumnya, infrastruktur semacam alun-alun yang dikelilingi oleh keraton, masjid, adalah simbol sebuah domain politik. Hanya saja, apa peduli ”Tuan Guntur” (begitu Daendels dijuluki karena ketegasannya dan barangkali perintahnya yang keras meledak seperti guntur di langit)?

Alun-alun, seperti di Pati dan Demak, dia terjang dengan proyek jalan rayanya. Dalam catatan Peter JM Nas dan Pratiwo (Java and De Groote Postweg, La Grande Route, The High Military Road, Leiden/Jakarta, 2001), di alun-alun yang terbelah itu lalu muncul kegiatan perdagangan, katakanlah lahirnya domain ekonomi baru, merongrong domain politik lama keraton. Kalau menurut budayawan Sardono W Kusumo, pembangunan jalan raya oleh Daendels juga mengalienasi keraton-keraton di Jawa, yang kemudian memilih jalur ke selatan saja, berhubungan dengan Laut Selatan, dengan Ratu Kidul. Bisa ditebak, apa implikasinya, kalau di belahan utara dunia bergerak dalam kegairahan perdagangan, sementara di jalur selatan raja asyik-masyuk bermasturbasi dengan Ratu Kidul, maka kekuasaan lama harus segera tutup buku. Tancep kayon.

Pada periode sejak awal 1800-an itulah disebabkan berbagai sebab benih-benih antikolonialisme menemukan bentuknya dalam perlawanan yang baru—bukan sekadar kisruh berebut kekuasaan seperti di zaman-zaman keraton lama sebelumnya. Menurut Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya, Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, Gramedia Pustaka Utama, 1996), perang yang dilancarkan oleh Pangeran Diponegoro, yang sering juga disebut sebagai ”Perang Jawa” dari 1825-1830, adalah ”batas historis antara periode ’konflik-konflik feodal’ dan ’periode modern’”. Lombard mengaksaentuasi pendapat Peter Carey, bagaimana perang tadi meletus bukan pada waktu krisis, tetapi justru pada waktu pembangunan ekonomi berjalan pesat.

”Yang terjadi bukanlah pemberontakan petani yang tercetus karena kelaparan dan kesengsaraan, tetapi pemberontakan terencana, yang dikobarkan oleh beberapa orang bangsawan dan secara sadar didukung oleh sebagian elite pedesaan,” demikian Lombard menulis.

Ihwal mengenai Diponegoro ini juga menarik perhatian pelukis tersohor, Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880), yang banyak bergaul dengan elite bangsawan maupun para intelektual Eropa. Politik representasi sudah beroperasi pada zaman itu. Pelukis Belanda, JW Pieneman, melukis peristiwa penangkapan Diponegoro, dengan menggambarkan sang pangeran berdiri dengan dua tangan terbentang seolah kehilangan akal, sementara di belakangnya, Jenderal de Kock berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan, seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

Statemen berbeda diberikan oleh Raden Saleh. Dalam lukisan karyanya berjudul ”Penangkapan Diponegoro”, Sang Pangeran berdiri tegak dengan kerut wajah tegas berwibawa, tangannya memegang tasbih dengan kencang. Jenderal de Kock dilukiskan tetap menaruh hormat, selain penggambaran kepalanya yang gede (seluruh orang Belanda dalam lukisan itu kepalanya terlihat besar melebihi proporsi. Mungkin ini semacam ”penghinaan”, menggambarkan Belanda seperti para buto seberang dalam pewayangan).

Politik representasi ini bukankah merupakan gejala amat modern? Sebagaimana pelukis-pelukis dan seniman-seniman pada zaman berikutnya menyampaikan pesan politisnya di balik karya?

Awal tahun 1900-an, Hindia Belanda menyaksikan perubahan tata cara berpakaian sejumlah kalangan pribumi. Yang disebut ”new breed” atau bibit-bibit baru dari Indonesia modern nantinya mulai mengenakan pantalon dan juga topi seperti kalangan Belanda. Nantinya, peci menjadi semacam simbol identitas kebangsaan. Melalui mode, sebuah bangsa mulai mendefinisikan dirinya sendiri—bukan didefinisikan pihak lain. Seperti kata Baudelaire, modernitas jangan-jangan berasal dari mode.

Nasionalisme, diteorikan Ernest Gellner seperti dikutip oleh Benedict Anderson dalam bukunya yang terkenal, Imagined Communities (Verso, London-New York, 1983), bukanlah hal kebangkitan bangsa-bangsa pada suatu kesadaran diri, (tapi) ia menemukan (invent) bangsa-bangsa yang sebenarnya tidak eksis. Atau selanjutnya dalam tesis Anderson, sebuah bangsa, sebuah komunitas, sekecil apa pun, sebenarnya adalah soal ”terbayangkan” (imagined) karena toh pada dasarnya kita tidak pernah kenal, bertemu, atau tahu-menahu sebagian besar anggota komunitas itu, terlebih kalau diluaskan sebagai bangsa.

Jadi, memang harus ada proses imajiner yang mampu membentuk affinity sekaligus perasaan percaya—trust dalam istilah Fukuyama—bahwa kita terikat menyongsong masa depan bersama. Nyatanya, proses itu sekarang disabot para penguasa, dirongrong dari para pengutil sampai para tikus garong yang meng-korup kekayaan bangsa secara besar-besaran. Sebagian besar dari kami telah kalian miskinkan.

Grote Postweg sudah terkubur sejarahnya (dari sepanjang jalur ini di seluruh Jawa, adakah sepenggal saja yang dinamai Jalan Raya Daendels?). Bersama terkuburnya sejarah, tinggallah kebangsaan—sebagai suatu konsep imajiner—juga menjadi imajinasi: imajinasi masa lalu.

Posted by: djarotpurbadi | February 10, 2009

Sukabumi: Berlibur Ke Rumah Nyai Ratu

Kompas.com: Sabtu, 9 Februari 2008 | 14:52 WIB

Palabuhan Ratu menyajikan panorama  Samudera Indonesia yang aduhai. Kebun karet, pasir putih, hutan, dan budaya setempat menjadi paduan yang unik. Ada pula hotel yang menyisakan misteri klasik tentang penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

Banyak pantai indah bertebaran di pesisir Selatan Jawa. Terentang mulai dari Grajagan di Jawa Timur — pantai ini menjadi ajang turnamen tahunan selancar internasional–,  Parangtritis dan Baron di Yogya, hingga Pangandaran dan Ujung Kulon di Jawa Barat yang menjadi cagar alam nasional. Terselip di antaranya adalah Palabuhan Ratu yang menjadi salah satu ikon pariwisata Sukabumi.

Terletak sekitar 50 kilometer arah Selatan Kota Sukabumi, atau sekitar 160 kilometer dari Jakarta, Palabuhan Ratu menjadi kawasan wisata keluarga yang hangat dan ideal. Di sepanjang jalan beraspal mulus yang menyusuri tepi pantai sepanjang 6 kilometer itu, berjajar penginapan, rumahmakan, kafe atau sekadar losmen kecil dan warung mie rebus.

Yang menarik dari kawasan ini adalah komposisi alamnya. Ketika tubuh Anda terguncang-guncang akibat banyaknya lobang di sepanjang jalan raya menuju kawasan ini, di kanan kiri Anda terbentang hutan karet dan kebun cengkeh yang rimbun menghijau. Lumayan, karena itu pasti akan sedikit mengobati kepenatan Anda berkendara.

Lalu, ketika jalan terasa menjadi semakin halus dan bersahabat, pemandangan pun segera berganti. Aroma pantai yang kental dan angin yang berhembus lebih kencang menyelusup di antara sawah-sawah yang waktu itu mulai menguning. Padi-padi itu, hanya terletak beberapa puluh meter dari ombak yang saling berkejaran menciptakan buih.

Goa Dan Air Panas

Bagi Anda yang tidak ingin menginap, mungkin musti bergegas untuk menjelajahi tempat-tempat wisata di sekitar Palabuhan Ratu. Ada banyak tempat menarik yang bisa Anda kunjungi, misalnya saja ke Goa yang disebut dengan Rawa Kalong. Seperti namanya, gua yang terletak sekitar 3 kilometer dari pusat kota kecamatan ini memang menjadi markas metamorfosis Count Dracula. Makanya, kebanyakan orang justru lebih nyaman menikmati goa itu dari luar, sore-sore dalam keremangan senja, ketika ribuan kalong atau kelelawar menutupi langit.

Jika Anda merasa tidak nyaman melihat tikus terbang itu, mungkin pemandian air panas Cisolok adalah alternatif yang paling menarik. Hanya memperpanjang perjalanan Anda ke arah Barat sekitar 3 kilometer lagi, Anda sudah bisa menikmati hangatnya air belerang yang diyakini merupakan obat mujarab untuk rematik dan penyakit kulit lainnya.

Bagi yang menyukai wisata ziarah, Anda pun bisa berkunjung ke banyak situs makam kuno yang banyak tersebar di bukit-bukit yang menjulang memagari Palabuhan Ratu. Sebut saja Gunung Tangkil. Di puncak bukit ini terdapat tanah lapang seluas sekitar 30 meter persegi. Di situ terdapat makam Embah Bapung Alas, Embah Lanang Jagad dan Embah-embah lain yang diyakini oleh penduduk setempat sebagai sesepuh dan penguasa Palabuhan Ratu.

Hotel Samudera

Dan bagi Anda yang berencana untuk menginap, ada banyak alternatif penginapan dengan harga yang bisa disesuaikan dengan kekuatan kantong Anda. Satu-satunya hotel berbintang tiga di kawasan itu adalah hotel Samudera Beach. Dengan lokasi tepat menatap lautan, hotel tertua yang dibangun atas inisiatif Bung Karno pada tahun 1962 ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Meski pantai yang terdapat di Hotel Samudera Beach (HSB) termasuk salah satu yang terbersih dan terindah, sebenarnya bukan itu yang menjadi daya tarik utamanya. Salah satu kamar di situ, yaitu kamar nomor 308 yang terletak di lantai 3 menjadi salah satu kamar hotel terpopuler di Indonesia. Banyak pengunjung yang menginap karena tertarik pada romantika kamar tersebut. “Berdasarkan wangsit yang diterima Bung Karno, hotel ini hanya boleh dibangun asal disedikan satu ruangan kosong,” ujar Edi, salah seorang karyawan yang sudah bekerja di HSB selama 27 tahun.

Konon, di kamar inilah BK menjalin hubungan cinta dengan Penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul. Begitu Anda masuk kamar tersebut, suasana mistis memang segera langsung terasa. Ruangannya didominasi warna hijau, karpet hijau, keramik hijau, gordin hijau, dan tak lupa bau kemenyan begitu keras menyengat. Delapan lukisan Ratu Kidul dari berbagai versi –salah satunya karya asli Basuki Abdullah– dan dua lukisan BK menutupi dinding kamar tersebut.

Tak jelas, apakah benar BK mempunyai hubungan khusus dengan Sang Nyai. Apalagi menurut Edi, BK hanya sempat sekali berkunjung ke HSB. Yang pasti, BK meninggalkan salah satu karyanya di hotel tersebut.

Legenda Sang Ratu

Di jaman Belanda, cikal bakal kawasan wisata ini dimulai dari sebuah tempat yang disebut Gado Bangkong. Tempat yang menjorok ke laut itu menjadi pelabuhan bongkar muat bagi kapal-kapal yang merapat  ke pantai.

Entah siapa yang pertama kali menyebut kawasan ini dengan nama Palabuhan Ratu. Yang pasti, menurut Edi, itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan sang ratu Kidul. Dalam satu riwayat, diceritakan bahwa nama itu justru berhubungan erat dengan sejarah Prabu Siliwangi.

Nama Ratu di sini ternyata merujuk pada nama putri terakhir Sang Prabu, yaitu Ratu Purnama Sari. Dialah yang melahirkan Nyai Ratu Palabuhan. Kelak nama itu dibalik dan menjadi sebutan populer untuk daerah sini yaitu Palabuhan Ratu. Kemungkinan besar, Nyai Ratu itu malah tidak hidup di daerah yang sekarang ramai disebut Palabuhan Ratu. Diduga, ia justru tinggal di  daerah Pasir Pogor, Cidadap, beberapa kilometer dari tempat itu.  Tapi  yakin saja, konfirmasi atas kebenaran domisili ini tak akan mengubah apa-apa tentang Pelabuhan Ratu.(SENIOR/Masrur Jamaluddin)

Posted by: djarotpurbadi | February 10, 2009

Wapres Doakan Umat Hindu Sehat dan Selamat

Kompas.com: Kamis, 6 Maret 2008 | 15:40 WIB

JAKARTA, KAMIS-Sehari sebelum perayaan Hari Nyepi Tahun Baru Saka 1930, yang jatuh pada hari Jumat (7/3) besok, Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Kamis (6/3), memberikan ucapan selamat dan berdoa agar pada saat perayaan Hari Nyepi itu umat Hindu sehat dan selamat.

“Kami ucapkan selamat merayakan Hari Nyepi dan doa, karena Hari Raya Nyepi adalah hari umat Hindu untuk melakukan intropeksi dan melakukan doa bersama di Pura. Besok, saya harapkan semuanya sehat dan semuanya selamat,” ujar Wapres Kalla, saat ditanya pers, seusai menerima kunjungan Pangeran Andrew di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (6/3) siang tadi.

Pada setiap perayaan Hari Raya Nyepi di Bali, besok, Bali selalu bebas dari segala aktivitas selama 24 jam, termasuk di bandar udara dan pelabuhan. Biasanya, aktivitas hanya dilakukan secara terbatas di perhotelan, rumah sakit, dan kantor polisi.

Nyepi merupakan salah satu bagian dari upaya menyadarkan umat agar berpuasa bekerja (amati karya), tidak menyalakan api atau listrik (amati geni), tidak mencari hiburan (amati lelanguan), dan berpuasa bepergian (amati lelungan). (HAR)

Posted by: djarotpurbadi | February 10, 2009

Bersyukur atas Segala Berkah

Tahun Baru Hijriah dan 1 Sura Diperingati dengan Berbagai Ritual

Kompas.com: Selasa, 30 Desember 2008 | 13:29 WIB

Sleman, Kompas – Peringatan Tahun Baru 1430 Hijriah di berbagai daerah di DIY sepanjang Minggu (28/12) dan Senin (29/12) berlangsung khidmat dan meriah. Berbagai ritual terkait perayaan malam 1 Sura digelar warga untuk merefleksikan rasa syukur atas berkah di tahun lalu dan harapan keselamatan di tahun yang baru.

Salah satu ritual malam 1 Sura yang digelar adalah Tapa Mbisu Merti Bumi di Tlogo Putri, kawasan obyek wisata Kaliurang, Minggu malam. Sebanyak 45 orang, yang terdiri atas peserta kirab dan bregada Pangesti Jawi, melakukan ritual “jalan bisu” mengelilingi kawasan wisata Kaliurang sejauh sekitar 5 kilometer.

Masyarakat tiga dusun di Kaliurang juga mempersembahkan hasil bumi mereka dalam perayaan tersebut, seperti ketela, ubi, kacang- kacangan, dan pisang. Selain itu, acara juga dimeriahkan dengan pergelaran wayang kulit berlakon Semar Krido, dengan dalang Ki Kuswala.

Ketua panitia Eko Budoyo mengatakan acara ini merupakan agenda tahunan yang telah memasuki perayaan kesembilan kalinya tahun ini. “Perayaan ini digelar untuk menunjukkan rasa syukur atas berkah pada tahun lalu dan berharap Tuhan memberikan berkah-Nya lagi di tahun depan,” tuturnya.

Kepala Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Beja Wiryanto mengatakan ritual ini memiliki pesan bahwa Kaliurang sebagai kawasan wisata juga masih memegang teguh nilai-nilai budaya. “Diharapkan, dengan acara ini, budaya dan pariwisata bisa berjalan bersama-sama, yang pada akhirnya membawa kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Beja menambahkan, sebelumnya masyarakat juga melakukan penanaman sekitar 500 pohon di areal Taman Nasional Gunung Merapi dalam rangkaian peringatan menyambut 1 Sura. Hal ini sebagai upaya menjaga kelestarian alam yang menjadi magnet utama kawasan kaliurang. Wayang

Di Kabupaten Gunung Kidul, perayaan berlangsung meriah di seluruh penjuru kabupaten, termasuk di pelosok pedesaan. Warga menggelar aneka ragam acara, seperti wayangan, tirakatan, hingga sedekah laut sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta.

Di Pantai Baron, kemeriahan Tahun Baru diwujudkan dalam bentuk perayaan sedekah laut. Para pedagang melarung gunungan berisi makanan, ayam hidup, hingga tabur bunga di laut. Beberapa kapal berkekuatan 1 PK membawa gunungan sebagai persembahan wujud syukur.

Pemimpin ritual sedekah laut Sugito Pramono mengatakan sedekah laut oleh para pedagang di Pantai Baron telah dilaksanakan dalam 10 tahun terakhir. Dalam waktu hampir bersamaan, sedekah laut juga digelar di Pantai Drini dan Pantai Kukup. “Kami bersyukur untuk anugerah sepanjang tahun lalu dan berharap tetap memperoleh rezeki di tahun mendatang,” ucap Sugito.

Di Desa Sodo, warga menyambut Tahun Baru 1430 Hijriah dengan menggelar pengajian massal. Pengajian dihadiri oleh lebih dari 200 orang dan digelar hingga tengah malam. Imam pengajian Sunardi mengajak masyarakat untuk menjadi manusia yang lebih baik di tahun mendatang.

Di Kabupaten Kulon Progo, peringatan 1 Sura yang berlangsung di sejumlah tempat berhasil menyedot perhatian wisatawan lokal. Di Puncak Suroloyo, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, ratusan orang dari berbagai penjuru daerah datang untuk melihat ritual pembersihan pusaka tombak Kiai Manggolo Mukti dan payung Songsong Makuto Dewo.

Mereka tidak hanya berasal dari DI Yogyakarta, melainkan juga dari Magelang, Kebumen, dan Purworejo di Provinsi Jawa Tengah. Kepadatan wisatawan juga terlihat di obyek wisata ritual Gunung Lanang dan Pantai Glagah di Kecamatan Temon. Wisatawan datang hendak melihat proses ruwatan yang berlangsung di Gunung Lanang, mulai Minggu malam hingga Senin pagi.

Ribuan orang juga memadati Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, saat malam 1 Sura. Tidak ada yang berbeda dibandingkan tahun lalu. Hanya saja, dari pengamatan di sepanjang Jalan Parangtritis, peziarah pejalan kaki tak sebanyak tahun lalu. (ENG/WKM/YOP/PRA)

Posted by: djarotpurbadi | February 10, 2009

Seks, Mitos, dan Paradoks

Kompas.com: Rabu, 24 Desember 2008 | 10:56 WIB

MITOS dalam bidang seksual seolah tidak pernah ada habisnya. Tak heran, banyak orang kerap salah jalan atau tersesat.

Sebut saja mitos mengenai darah monyet yang oleh suatu komunitas dipercaya bisa mencegah dan menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Ada juga yang mempercayai bahwa minum antibiotik sebelum melakukan hubungan seksual dengan pelacur dapat mencegah atau menahan penularan penyakit menular seksual.

Pertapaan Ratu Kalinyamat di Jepara dan Pantai Parangkusumo di Yogyakarta dipercayai sebagai tempat yang dapat membuat seseorang tampak lebih muda kalau melakukan ritual tertentu. Parahnya, ritual itu adalah melakukan hubungan seks dengan anak-anak atau dengan gadis yang masih perawan.

Sebenarnya apa sih mitos itu? Prof Koentjoro, MBSc, Ph D, psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dalam simposium kedokteran seksual di Hotel Hyatt Regency, Surabaya, menyebutkan bahwa mitos merupakan ide atau cerita yang dipercayai banyak orang, meski faktanya tidak benar.

Psikolog yang meneliti perihal pelacuran sejak tahun 80-an ini menyebutkan, mitos juga bisa berupa cerita kuno yang dibuat untuk menjelaskan kejadian alami atau peristiwa historis. Jadi, jelas bahwa mitos merupakan kepercayaan yang diyakini masyarakat, meski tidak benar faktanya.

Selanjutnya, Prof Koentjoro mengungkapkan, pelacuran yang ada sekarang ini memiliki kaitan erat dengan tingginya kejadian perceraian. Tahun 1950 mungkin merupakan tahun di mana angka rata-rata perceraian tertinggi bahkan di seluruh dunia.

Anehnya, di masyarakat tertentu, para janda justru semakin bangga dengan status kejandaannya. Semakin kerap menjadi janda berarti semakin dicari atau dibutuhkan pria.

“Bahkan tindakan ini justru jadi ajang kompetisi,” ujarnya.

Di sisi lain, di sebagian besar komunitas masyarakat Indonesia, seks masih dianggap tabu. Namun, justru nyatanya fakta tidak menunjukkan demikian. Paradoks atau kontradiksi terjadi di mana-mana. Sekolah Tinggi Psikologi Yogyakarta membuktikan, berdasarkan riset yang pernah mereka lakukan, setidaknya di Yogyakarta terdapat 25 toko seks (sex shop).

Tidak bisa disangkal, toko semacam itu akan menunjang perluasan prostitusi dan relasi tidak sehat yang pada akhirnya akan menghancurkan kehidupan rumah tangga.(ABD)

Posted by: djarotpurbadi | February 10, 2009

Melasti Jadi Ajang Introspeksi Diri

Laut Memiliki Kekuatan Melebur Mala dan Noda

Kompas.com: Selasa, 4 Maret 2008 | 15:32 WIB

Bantul, Kompas – Ritual Melasti dari segi ritual memang tidak ada bedanya dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, makna perayaan Melasti tahun ini lebih terasa khidmat karena introspeksi diri benar-benar ditekankan, mengingat banyaknya musibah dan bencana alam yang melanda negeri ini. Semuanya harus kita bersihkan, baik pribadi kita atau mikrokosmos dan alam semesta ini atau makrokosmos dari segala angkara murka dan sifat tidak baik lainnya. Lewat acara Melasti ini, kami juga membersihkan semua sarana dan prasarana yang digunakan untuk merayakan hari Nyepi nanti, kata Ketua Perisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) DIY Ida Bagus Agung, di sela-sela acara Melasti di Pantai Parangkusumo, Bantul, Senin (3/3).

Upacara Melasti dilakukan sebagai penyucian diri umat Hindu menghadapi Hari Raya Nyepi pada 7 Maret 2008 nanti. Menurut Agung, introspeksi diri bisa mengarahkan kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Sayangnya, masyarakat masih jarang melakukannya. Lewat introspeksi diri, kita bisa menyadari segala kesalahan dan kekurangan kita masing-masing. Bila sudah tahu, maka ada niat untuk berubah. Introspeksi juga membuat kita lebih arif dalam menyikapi setiap bencana, tuturnya. Penyucian Pantai menjadi lokasi untuk perayaan Melasti karena di lautlah semuanya menjadi bersih. Sebagai simbol, kalangan umat Hindu yang berasal dari DIY dan sekitarnya melarungkan sejumlah sesaji. Di laut kita buang semua kejelekan kita dan kita pulang sudah membawa air suci.

Bagi kami, laut memiliki kekuatan untuk meleburkan mala atau noda, ucapnya. Melasti adalah rangkaian kegiatan pertama untuk menyambut Tahun Baru Saka 1930. Acara ini akan disusul dengan Tawur Kesanga di Candi Prambanan. Seluruh upacara dilaksanakan sebagai langkah bagi umat Hindu untuk membersihkan diri dari segala kekotoran, agar mereka jauh dari bencana dan pengaruh buruk. Mereka berharap, dengan kesucian jiwa yang baru dapat menjalankan brata panyepian (melaksanakan Nyepi) dan kelak dapat hidup selaras dengan alam semesta. Tak hanya dihadiri umat Hindu asal Bali, Melasti di Parangkusumo juga dihadiri umat Hindu Jawa. Mereka memakai pakaian adat masing- masing. Namun, ada juga orang Jawa yang sengaja menggunakan pakaian adat Bali. Saya pakai pakaian adat Bali karena lebih terasa kekhasan Hindu-nya, kata Atmo, umat Hindu dari Klaten. Atmo sengaja datang ke Parangkusumo untuk mengikuti acara introspeksi diri secara khidmat. Selain itu, ia juga bisa bersilaturahmi dengan umat Hindu lainnya. Menurut data PHDI DIY, jumlah umat Hindu di DIY berkisar 15.000-16.000. (ENY)

Posted by: djarotpurbadi | February 10, 2009

Upacara Melasti di Parangkusumo

Kompas.com: Senin, 3 Maret 2008 | 22:27 WIB

YOGYAKARTA, SENIN – Ratusan umat Hindu melakukan upacara melasti untuk mensucikan diri di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (3/3). Upacara melasti dimulai sekitar pukul 14.30 WIB, diawali sambutan ketua panitia, I Wayan Senen.

Ia mengatakan melalui upacara ini diharapkan semua sifat buruk pada diri manusia akan hilang. “Selain itu, diharapkan pula kita bisa mawas diri, selalu ingat dan waspada, berani mengakui kesalahan, tegar menghadapi rintangan dan godaan demi membangun persaudaraan, serta menjaga kelestarian alam semesta,” katanya. I Wayan menyebutkan upacara melasti biasanya dilakukan pada tiga atau empat hari sebelum Hari Raya Nyepi. “Untuk tahun ini Hari Raya Nyepi jatuh pada tanggal 7 Maret,” katanya.

Usai sambutan ketua panitia, umat Hindu yang mengikuti upacara tersebut melakukan ’Natab Banten’ atau berdoa. Natab Banten dilakukan dengan cara duduk bersila, dan kedua telapak tangan dirapatkan. Tangan ke bawah (bheyakala), tangan ke dada (dhurmangala), dan terakhir tangan ke atas kepala (prayascittha). Usai berdoa, semua sesaji yang terdiri buah-buahan dan sayuran serta sejumlah arca yaitu pratima, nyasa, pralingga atau daksina lingih, diusung dengan ’jempana’ dibawa ke laut. Upacara melasti berlangsung khidmat dan tertib. (ABD)

Posted by: djarotpurbadi | February 10, 2009

Sura dan Libur Akhir Tahun Dorong Kunjungan Wisatawan

Kompas.com: Selasa, 30 Desember 2008 | 13:27 WIB

Ritual menyambut Sura yang rutin dijalankan ribuan warga DI Yogyakarta setiap tahun, telah menjadi salah satu bagian dari total 181 potensi kegiatan wisata yang ada di provinsi ini. Pada malam satu Sura, masyarakat banyak berkunjung ke sejumlah tempat yang dianggap memiliki nilai sakral, termasuk beberapa kawasan pantai dan gunung yang juga dikenal sebagai obyek wisata di DIY.

Sebagai gambaran, pada satu Sura 2007 yang jatuh di bulan Januari, kawasan pegunungan Puncak Suroloyo, Kulon Progo, dikunjungi lebih dari 2.800 orang. Padahal, biasanya jumlah pengunjung ke obyek wisata tersebut rata-rata tak lebih dari 500 orang dalam sebulan.

Fenomena serupa terjadi di Kaliurang, yang dikunjungi lebih dari 63.000 orang selama Januari 2007. Pantai Parangkusumo yang termasuk dalam kawasan Pantai Parangtritis juga mencatat jumlah pengunjung hingga 79.600 orang. Selain pengaruh kegiatan ritual saat Sura, kunjungan wisatawan ke sejumlah obyek wisata pantai dan gunung itu juga terjadi tak lepas dari pengaruh masa liburan, seperti liburan akhir tahun.

Kunjungan wisatawan ke sejumlah obyek wisata-termasuk ke Kaliurang dan Parangtritis-baik sepanjang Januari maupun Desember, terhitung besar jumlahnya jika dibandingkan dengan kondisi kunjungan di kedua obyek wisata tersebut di saat bulan-bulan biasa (lihat Grafis).

Pada masa libur di akhir tahun ini, kunjungan wisatawan ke sejumlah obyek wisata pantai dan pegunungan di DIY dipastikan jauh lebih banyak karena awal Sura tahun ini juga berlangsung di pengujung 2008. Tak bisa dimungkiri, kegiatan budaya seperti Sura berpengaruh pada tingkat kunjungan masyarakat ke obyek-obyek wisata di DIY. (BIMA BASKARA/LITBANG KOMPAS)

Posted by: djarotpurbadi | February 10, 2009

Pantai Parangtritis, Gumuk Pasir Terlengkap di Dunia

Kompas.com: Selasa, 1 April 2008 | 16:56 WIB

Parangtritis adalah pantai terindah dan terpanjang di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pantai ini sudah dikenal sejak jaman Belanda sebagai tempat peristirahatan yang nyaman. Pengunjung seperti tak pernah bosan menyinggahi tempat itu.

Pantai ini sangat indah dan menawan dengan deburan ombak pantai selatan yang cukup besar. Bagi mereka yang hobi berselancar, meski terbatas, bisa melakukannya di pantai ini. Angin yang kencang berhembus dapat Anda manfaatkan untuk bermain layang-layang.

Eloknya pemandangan sejauh mata memandang akan membuat hati Anda merasa tenteram. Di pantai ini Anda akan menjumpai pemandangan lain di samping laut, yakni adanya gumuk-gumuk pasir (sand dune) yang bergitu eloknya. Menurut ahli geologi, gumuk ini merupakan gumuk pasir terlengkap di Indonesia, bahkan mungkin dunia. Atraksi Pemberani

Di sini banyak dijumpai tipe-tipe gumuk pasir dengan beragam model mulai dari parabola, lingkaran ataupun tapal kuda. Gumuk pasir sendiri merupakan hasil kerja dari angin yang bertiup di sepanjang Pantai Parangtritis, sehingga menghasilkan bentukan-bentukan yang cukup indah.

Tak hanya itu, di areal belakang (apabila kita menghadap ke arah laut), akan dijumpai adanya pegunungan-pegunungan kapur dengan banyak gua yang jadi hunian burung wallet. Nah, di sinilah banyak dijumpai para “pemberani” yang mengambil air liur burung walet yang banyak terdapat di dinding-dinding gua kapur tersebut. Barangkali kalau Anda menyaksikan pemandangan ini, akan tergetar hati Anda.

Luasnya hamparan pasir di sepanjang pantai, menjadikan pantai ini menarik untuk ditelusuri. Akan melelahkan memang, tetapi menyegarkan dan menyehatkan karena udara laut dan angin yang segar. Namun demikian, bila Anda merasa benar-benar capai dan masih ingin berkeliling melihat pemandangan, Anda bisa menyewa delman atau kuda yang memberikan jasa untuk mengelilingi pantai Parangtritis.

Pada musim liburan sekolah, kita banyak menjumpai delman yang memberikan jasa keliling pantai. Di bawah terpaan angin pantai yang cukup kencang ini, kita akan benar-benar dibuai dalam mimpi dan merasa nyaman mengelilingi pantai dengan menggunakan delman.

Parangtritis telah lama terkenal, tidak hanya sebagai pantai yang mempertemukan bukit pasir, pantai dan tebing batu, tetapi juga sebagai tempat bersejarah yang berhubungan dengan legenda misterius tentang Ratu Laut Selatan, “Kanjeng Ratu Kidul.” Legenda mengatakan Kanjeng Ratu Kidul menikah dengan salah satu keturunan Kerajaan Mataram, Panembahan Senopati, yang dia kunjungi dan berhubungan pada saat-saat tertentu.

Dikatakan, nama Parangtritis menyatakan suatu fenomena alam. Dari dinding pada salah satu tebing meneteslah air yang mengandung kalsium secara terus menerus dan pada akhirnya membentuk sebuah kolam dengan air yang sangat jernih di dalamnya. Sri Sultan Hamengkubuwono VII menemukannya dan merawatnya. Kolam itu sekarang digunakan sebagai kolam renang.

Dua Rute

Lokasi Pantai Parangtritis ada di sebelah selatan kota Yogyakarta, kurang lebih 25 km dari pusat kota Yogyakarta. Lokasi ini bisa ditempuh dalam tempo kurang lebih satu jam perjalanan melalui kota Bantul dengan jalan-jalan yang lebar dan mulus. Pendek kata, lokasi wisata ini sangat gampang dijangkau.

Ada dua rute yang dapat diambil untuk mencapai pantai Parangtritis. Rute pertama: Yogyakarta-Kretek-Parangtritis. Segala jenis kendaraan dapat dengan mudah melewati jalan ini langsung ke pantai. Mereka yang tertarik untuk melakukan perjalanan dengan bus dapat naik bus di terminal bus Umbulharjo di Yogyakarta.

Rute Kedua: Yogyakarta-Imogiri-Siluk-Parangtritis, jaraknya kira-kira 35 km dan berhubungan dengan rute turisme yang terdiri dari pemakaman keluarga raja, tempat pemakaman para bangsawan Mataram dan keturunannya, di Kota Gede dan Imogiri. Rute ini menawarkan pemandangan yang indah, kombinasi antara sungai dan bukit kapur. Segala jenis kendaraan dapat melewati jalan ini langsung menuju pantai. Mereka yang tertarik untuk melakukan perjalanan dengan bus dapat naik bus di terminal bus Umbulharjo di Yogyakarta. (SENIOR/Abdi Susanto)

Older Posts »

Categories