Tahun Baru Hijriah dan 1 Sura Diperingati dengan Berbagai Ritual
Kompas.com: Selasa, 30 Desember 2008 | 13:29 WIB
Sleman, Kompas – Peringatan Tahun Baru 1430 Hijriah di berbagai daerah di DIY sepanjang Minggu (28/12) dan Senin (29/12) berlangsung khidmat dan meriah. Berbagai ritual terkait perayaan malam 1 Sura digelar warga untuk merefleksikan rasa syukur atas berkah di tahun lalu dan harapan keselamatan di tahun yang baru.
Salah satu ritual malam 1 Sura yang digelar adalah Tapa Mbisu Merti Bumi di Tlogo Putri, kawasan obyek wisata Kaliurang, Minggu malam. Sebanyak 45 orang, yang terdiri atas peserta kirab dan bregada Pangesti Jawi, melakukan ritual “jalan bisu” mengelilingi kawasan wisata Kaliurang sejauh sekitar 5 kilometer.
Masyarakat tiga dusun di Kaliurang juga mempersembahkan hasil bumi mereka dalam perayaan tersebut, seperti ketela, ubi, kacang- kacangan, dan pisang. Selain itu, acara juga dimeriahkan dengan pergelaran wayang kulit berlakon Semar Krido, dengan dalang Ki Kuswala.
Ketua panitia Eko Budoyo mengatakan acara ini merupakan agenda tahunan yang telah memasuki perayaan kesembilan kalinya tahun ini. “Perayaan ini digelar untuk menunjukkan rasa syukur atas berkah pada tahun lalu dan berharap Tuhan memberikan berkah-Nya lagi di tahun depan,” tuturnya.
Kepala Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Beja Wiryanto mengatakan ritual ini memiliki pesan bahwa Kaliurang sebagai kawasan wisata juga masih memegang teguh nilai-nilai budaya. “Diharapkan, dengan acara ini, budaya dan pariwisata bisa berjalan bersama-sama, yang pada akhirnya membawa kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Beja menambahkan, sebelumnya masyarakat juga melakukan penanaman sekitar 500 pohon di areal Taman Nasional Gunung Merapi dalam rangkaian peringatan menyambut 1 Sura. Hal ini sebagai upaya menjaga kelestarian alam yang menjadi magnet utama kawasan kaliurang. Wayang
Di Kabupaten Gunung Kidul, perayaan berlangsung meriah di seluruh penjuru kabupaten, termasuk di pelosok pedesaan. Warga menggelar aneka ragam acara, seperti wayangan, tirakatan, hingga sedekah laut sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta.
Di Pantai Baron, kemeriahan Tahun Baru diwujudkan dalam bentuk perayaan sedekah laut. Para pedagang melarung gunungan berisi makanan, ayam hidup, hingga tabur bunga di laut. Beberapa kapal berkekuatan 1 PK membawa gunungan sebagai persembahan wujud syukur.
Pemimpin ritual sedekah laut Sugito Pramono mengatakan sedekah laut oleh para pedagang di Pantai Baron telah dilaksanakan dalam 10 tahun terakhir. Dalam waktu hampir bersamaan, sedekah laut juga digelar di Pantai Drini dan Pantai Kukup. “Kami bersyukur untuk anugerah sepanjang tahun lalu dan berharap tetap memperoleh rezeki di tahun mendatang,” ucap Sugito.
Di Desa Sodo, warga menyambut Tahun Baru 1430 Hijriah dengan menggelar pengajian massal. Pengajian dihadiri oleh lebih dari 200 orang dan digelar hingga tengah malam. Imam pengajian Sunardi mengajak masyarakat untuk menjadi manusia yang lebih baik di tahun mendatang.
Di Kabupaten Kulon Progo, peringatan 1 Sura yang berlangsung di sejumlah tempat berhasil menyedot perhatian wisatawan lokal. Di Puncak Suroloyo, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, ratusan orang dari berbagai penjuru daerah datang untuk melihat ritual pembersihan pusaka tombak Kiai Manggolo Mukti dan payung Songsong Makuto Dewo.
Mereka tidak hanya berasal dari DI Yogyakarta, melainkan juga dari Magelang, Kebumen, dan Purworejo di Provinsi Jawa Tengah. Kepadatan wisatawan juga terlihat di obyek wisata ritual Gunung Lanang dan Pantai Glagah di Kecamatan Temon. Wisatawan datang hendak melihat proses ruwatan yang berlangsung di Gunung Lanang, mulai Minggu malam hingga Senin pagi.
Ribuan orang juga memadati Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, saat malam 1 Sura. Tidak ada yang berbeda dibandingkan tahun lalu. Hanya saja, dari pengamatan di sepanjang Jalan Parangtritis, peziarah pejalan kaki tak sebanyak tahun lalu. (ENG/WKM/YOP/PRA)